RESUSITASI JANTUNG PARU

10 09 2008

materi-bwat-ngisi-blog

Resusitasi jantung paru tidak dilakukan pada semua penderita yang mengalami gagal jantung atau pada orang yang sudah mengalami kerusakan pernafasan atau sirkulasi yang tidak ada lagi kemungkinan untuk hidup, melainkan yang mungkin untuk hidup lama tanpa meninggalkan kelainan di otak5.

Keberhasilan resusitasi dimungkinkan oleh adanya waktu tertentu diantara mati klinis dan mati biologis. Mati klinis terjadi bila dua fungsi penting yaitu pernafasan dan sirkulasi mengalami kegagalan total. Jika keadaan ini tidak ditolong akan terjadi mati biologis yang irreversibel. Resusitasi jantung paru yang dilakukan setelah penderita mengalami henti nafas dan jantung selama 3 menit, presentasi kembali normal 75 %tanpa gejala sisa. Setelah 4 menit presentasi menjadi 50 % dan setelah lima menit menjadi 25 %. Maka jelaslah waktu yang sedikit itu harus dapat dimanfaatkan dengan sebaik mungkin.
Disamping mati klinis dan biologis dikenal dengan istilah mati social yaitu keadaan dimana pernafasan dan sirkulasi terjadi spontan atau secara buatan, namun telah mengalami aktifitas kortikal yang abnormal. Penderita dalam keadaan sopor atau koma tanpa kemungkinan untuk sembuh dan dinyatakan dalam keadaan vegetatif.
Agar resusitasi dapat berjalan maksimal tentu saja memerlukan penolong yang cekatan dan terampil. Waktu satu menit sangat berguna dalam memberikan pertolongan pertama padapenderita.

II.1.Definisi
Resusitasi jantung paru merupakan usaha yang dilakukan untuk mengembalikan fungsi pernafasan dan atau sirkulasi pada henti nafas (respiratory arrest) dan atau henti jantung (cardiac arrest) pada orang dimana fungsi tersebut gagal total oleh suatu sebab yang memungkinkan untuk hidup normal selanjutnya bila kedua fungsi tersebut bekerja kembali5.

II.2.AnatomidanFisiologi
Pemakaian oksigen dan pengeluaran karbon dioksida sangat diperlukan untuk menjalankan fungsi normal selular didalam tubuh. Pemakaian tersebut melalui suatu proses pernafasan sehingga secara harfiah pernafasan dapat diartikan pergerakan oksigen dari atmosfer menuju sel ke udara bebas. Proses pernafasan terdiri dari beberapa langkah dimana sistem pernafasan, sistem saraf pusat dan sistem kardiovaskuler memegang peranan yang sangat penting.

II.2.1. Anatomi dan Fisiologi Saluran Pernafasan
Saluran pernafasan udara mulai dari hidung hingga mencapai paru adalah : hidung, faring, laring, trakhea, bronkhus dan bronkhiolus1.
Saluran pernafasan dari hidung sampai bronkhiolus dilapisi oleh membran mukosa yang bersilia. Ketika udara masuk ke dalam rongga hidung udara tersebut disaring, dihangatkan dan dilembabkan. Kemudian udara mengalir ke faring menuju laring.
Laring merupakan rangkaian cincin tulang rawan yang dihubungkan oleh otak dan mengandung pita suara. Diantara pita suara terdapat ruang berbentuk seperti sepatu kuda yang panjangnya kurang lebih 5 inci. Permukaan posterior agak pipih dan letaknya tepat didepan esofagus.
Bronkhus utama kanan dan kiri tidak simetris, yang kanan lebih pendek, lebih lebar dan merupakan kelanjutan trakhea. Cabang utama bronkhus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronkhus lobaris dan bronkhus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus menjadi bronkhus yang ukurannya semakin kecil yang berakhir menjadi bronkhiolus terminalis.
Oksigen pada proses pernafasan dipindahkan dari udara luar ke dalam jaringan dan stadium pertama ventilasi, yaitu masuknya campuran gas ke dalam dan keluar paru. Transportasi masuknya campuran gas yang keluar masuk paru terdiri dari beberapa aspek1,yaitu:

1.Difusi gas antara alveolus dan kapiler paru, dan antara darah sistemik dan sel jaringan.
2.Distribusi darah dalam sirkulasi pulmoner dan penyesuaiannya dengan distribusi udara dalamalveolus.
3.Reaksi kimia dan fisik dari oksigen dan karbondioksida dengan darah.
Stadium yang ketiga adalah respirasi sel, yaitu saat dimana metabolit dioksida untuk mendapatkan energi dan karbondioksida terbentuk sebagai sampah metabolisme sel dan dikeluarkan oleh paru-paru.

II.2.2.Anatomi&Fisiologi Kardiovaskuler
Jantung merupakan salah satu organ yang terletak dalam mediastinum di rongga dada, yaitu diantara kedua paru. Perikardium sendiri terbagi menjadi dua, yaitu perikardium parietalis dan pericardium visceralis. Perikardium parietalis melekat pada tulang dada sebelah depan dan kolumna vertebralis bagian belakang, sedangkan ke bawah pada diafragma. Perikardium visceralis langsung melekat pada permukaan jantung. Jantung sendiri terbagi dari 3 lapisan yaitu epikardium (lapisan terluar), miokardium (lapisan dalam) dan endokardium (lapisan terdalam)1.
Ruangan jantung terbagi menjadi 2 bagian jantung bagian atas atrium dan ventrikel terletak sebelah bawah, yang secara anatomi mereka terpisah oleh suatu annulus fibrosus. Keempat katup jantung terletak dalam cincin ini. Secara fungsinal jantung terbagi menjadi dua yaitu alat pompa kanan dan alat pompa kiri yang memompa darah sistemik. Pembagian fungsi ini mempermudah konseptualisasi dari urutan aliran darah secara anatomi.
Fisiologi siklus jantung ventrikel kiri memompa darah ke aorta melalui katup semilunaris aorta, dari aorta darah akan dialirkan menuju arteri kemudian ke jaringan melalui cabang kecil arteri (arteriola), dari arteriola kemudian menuju ke venula. Kemudian akan melalui vena darah akan dialirkan ke atrium kanan, dari atrium kanan darah menuju ventrikel kanan melalui katup trikuspidalis, dari ventrikel kanan kemudian darah dipompa menuju arteri pulmonalis melewati katup semilunaris pulmonalis. Dari arteri pulmonalis ke pulmo. Dari pulmo darah keluar melalui vena pulmonalis ke atrium kiri, dari atrium kiri kemudian menuju ventrikel kiri melalui katup bicuspidalis atau mitralis. Demikian seterusnya darah akan mengalir melalui siklus tersebut1.

II.3.Etiologi
Resusitasi jantung paru bertujuan untuk mengembalikan fungsi pernafasan dan atau sirkulasi, dan penanganan akibat henti nafas (respiratory arrest) dan atau henti jantung (cardiac arrest), yang mana fungsi tersebut gagal total oleh sebab yang memungkinkan untuk hidup normal5.
Adapun sebab henti nafas adalah :

1.Sumbatan jalan nafas
Bisa disebabkan karena adanya benda asing, aspirasi, lidah yang jatuh ke belakang, pipa trakhea terlipat, kanula trakhea tersumbat, kelainan akut glotis dan sekitarnya (sembab glotis, perdarahan).

2.Depresi pernafasan
Sentral : obat, intoksikasi, Pa O2 rendah, Pa CO2 tinggi, setelah henti jantung, tumor otak dan tenggelam.
Perifer : obat pelumpuh otot, penyakit miastenia gravis, poliomyelitis.
Sebab- sebab henti jantung4,5 :
Penyakit kardiovaskuler
Penyakit jantung sistemik, infark miokardial akut, embolus paru, fibrosis pada sistem konduksi (penyakit lenegre, sindrom adams stokes, noda sinus atrioventrikulaer sakit).
Kekurangan oksigen akut
Henti nafas, benda asing di jalan nafas, sumbatan jalan nafas oleh sekresi, asfiksia dan hipoksia.
Kelebihan dosis obat dan gangguan asam basa
Digitalis, quinidin, antidepresan trisiklik, propoksifen, adrenalin dan isoprenalin.
Kecelakaan
Syok listrik dan tenggelam.
Refleks vagal
Peregangan sfingter anii, penekanan atau penarikan bola mata.
Anestesi dan pembedahan.
Terapi dan tindakan diagnostik medis
Syok (hipovolemik, neurogenik, toksik dan anafilaktik)
Kebanyakan henti jantung yang terjadi di masyarakat merupakan akibat penyakit jantung iskemik, 40 % mati mendadak. Dari penyakit jantung iskemik terjadi dalam waktu satu jam setelah dimulainya gejala dan proporsinya lebih tinggi, sekitar 60 % diantara umur pertengahan dan yang lebih muda. Lebih dari 90 % kematian yang terjadi di luar rumah sakit disebabkan oleh fibrilasi ventrikuler, suatu kondisi yang potensial reversibel1.

PEMBAHASAN TENTANG PENGAJARAN “RJP”


Henti jantung dan henti nafas bukanlah kejadian yang sering terjadi walaupun di Rumah Sakit. Pada banyak kasus sebenarnya kematian mendadak sebagai akibat sroke infark, kelebihan dosis obat dan trauma hebat, dapat dicegah bila tindakan resusitasi dilakukan secara tepat. Setiap tenaga kesehatan harus menguasai teknik resusitasi jantung paru. Pada tahun 1974, The American Association menerbitkan penuntun pertama teknik bantuan hidup ini kemudian direvisi pada tahun 1980, tahun 1986 di negara lain mengikutinya1,4.
Pengajaran resusitasi jantung paru otak dibagi dalam 3 fase, yaitu : Bantuan Hidup Dasar (BDH), Bantuan Hidup Lanjut (BHL), Bantuan Hidup Jangka Lama. Dan dalam 9 langkah dengan menggunakan huruf abjad dari A sampai I2,5.
Fase I : untuk oksigenasi darurat, terdiri dari (A) Airway Control : penguasaan jalan nafas. (B) Breathing Support : ventilasi bantuan dan oksigen paru darurat. (C) Circulation Support : pengenalan tidak adanya denyut nadi dan pengadaan sirkulasi buatan dengan kompresi jantung, penghentian perdarahan dan posisi untuk syok.
Fase II : untuk memulai sirkulasi spontan terdiri dari (D) Drugs and Fluid Intravenous Infusion : pemberian obat dan cairan tanpa menunggu hasil EKG. (E) Electrocardioscopy (Cardiography) dan (F) Fibrillation Treatment : biasanya dengan syok listrik (defibrilasi).
Fase III : untuk pengelolaan intensif pasca resusitasi, terdiri dari (G) Gauging : menetukan dan memberi terapi penyebab kematian dan menilai sejauh mana pasien dapat diselamatkan. (H) Human Mentation : SSP diharapkan pulih dengan tindakan resusitasi otak yang baru dan (I) Intensive Care : resusitasi jangka panjang.
Dalam makalah ini hanya dibicarakan resusitasi jantung paru yang memang harus betul- betul dikuasai oleh setiap tenaga kesehatan terutama mereka yang bekerja di bidang anesthesia, unit darurat, kamar operasi dan kamar bersalin3.
III.1. Fase I (Bantuan Hidup Dasar)
Bila terjadi nafas primer, jantung terus dapat memompa darah selama beberapa menit dan sisa O2 yang berada dalam paru darah akan terus beredar ke otak dan organ vital lain. Penanganan dini pada korban dengan henti nafas atau sumbatan jalan nafas dapat mencegah henti jantung. Bila terjadi henti jantung primer, O2 tidak beredar dan O2

Jantung berfungsi untuk memompa darah dan kerjanya sangat berhubungan erat dengan sistem pernafasan, pada umumnya semakin cepat kerja jantung semakin cepat pula frekuensi pernafasan dan sebaliknya.

Jantung dapat berhenti bekerja karena banyak sebab,diantaranya:

  1. Penyakit jantung

  2. Gangguan pernafasan

  3. Syok

  4. Komplikasi penyakit lain: Stroke

  5. Penurunan kesadaran

Beberapa istilah yang berhubungan dengan keadaan sistem pernafasan dan sistem sirkulasi yang terganggu:

MATI

Dalam istilah kedokteran dikenal dengan dua istilah untuk mati: mati klinis dan mati biologis

Mati Klinis

Tidak ditemukan adanya pernafasan dan denyut nadi.Mati klinis dapat reversible.Pasien /korban mempunyai kesempatan waktu selama 4-6 menit untuk dilakukan resusitasi,sehingga memberikan kesempatan kedua sistem tersebut berfungsi kembali.

Mati Biologis

Terjadi kematian sel, dimana kematian sel dimulai terutama sel otak dan bersifat irreversible, biasa terjadi dalam waktu 8 – 10 menit dari henti jantung.

Apabila Bantuan Hidup Dasar dilakukan cukup cepat, kematian mungkin dapat dihindari seperti tampak pada tabel di bawah ini:

Keterlambatan Kemungkinan berhasil

1 menit 98 dari 100

2 menit 50 dari 100

10 menit 1 dari 100

Tanda-tanda pasti bahwa pasien/korban sudah mengalami kematian :

Lebam mayat

Muncul sekitar 20 – 30 menit setelah kematian, darah akan berkumpul pada bagian tubuh yang paling rendah akibat daya tarik bumi. Terlihat sebagai warna ungu pada kulit.

Kaku mayat

Kaku pada tubuh dan anggota gerak setelah kematian. Terjadi 1- 23 jam kematian

Tanda lainnya : cedera mematikan

Cedera yang bentuknya begitu parah sehingga hampir dapat dipastikan pasien/korban tersebut tidak mungkin bertahan hidup.

Pasien/korban mengalami henti nafas dan henti jantung mempunyai harapan hidup lebih baik jika semua langkah dalam ”rantai penyelamatan” (Chain of Survival) dilakukan. Rantai ini diperkenalkan oleh AHA (American Heart Association) :

1. Kecepatan dalam permintaan bantuan

2. Kecepatan dalam melakukan RJP

3. Kecepatan dalam melakukan Defibrilasi

4. Kecepatan dalam pertolongan Hidup Lanjut di RS (Advance Cardiac Life Support)

INDIKASI

  1. Henti Nafas

Henti nafas adalah berhentinya pernafasan pada pasien/korban yang ditandai dengan tidak adanya gerakan dada dan aliran udara pernafasan dari pasien/korban. Merupakan kasus yang harus dilakukan Bantuan Hidup dasar. Henti nafas sendiri dapat disebabkan atau terjadi karena:

Tenggelam

Stroke

Obstruksi jalan nafas

Epiglositis

Overdosis karena obat

Tersengat listrik

Infark miokard

Tesambar petir

Koma akibat berbagai macam kasus

Pada saat awal terjadinya henti nafas oksigen(O²) masih beredar dalam darah untuk beberapa menit dan jantung masih berdenyut sehingga darah masih disirkulasikan keseluruh tubuh termasuk organ vital lainya terutama otak. Bila pada keadaan ini diberikan bantuan nafas akan sangat bermanfaat dan dapat mencegah terjadinya henti jantung.

  1. Henti Jantung

Pada keadaan henti jantung sirkulasi berhenti.Keadaan ini dengan cepat menyebabkan otak dan organ vital lainnya kekurangan oksigen( O²) dan biasanya ditandai dengan tanda awal nafas yang tersengal-sengal atau air hanger.

Tujuan dari bantuan hidup dasar sendiri, yaitu:

  1. Mencegah berhentinya sirkulasi atau berhentinya respirasi (nafas)

  2. Memberikan bantuan eksternal terhadap sirkukasi (fungsi jantung) dan ventilasi (fungsi pernafasan/paru) pada pasien/korban yang mengalami henti jantung atau henti nafas melalui Cardio Pulmonary Resuciation (CPR) atau Resusitasi Jantung Paru (RJP).

Dalam melakukan RJP dibagi menjadi dua tahap:

a. Survei Primer ( Primary Survey)

Dapat/boleh dilakukan oleh setiap orang ( orang awam) yang sudah dilatih BHD

b. Survei Sekunder (Secondary survey)

Dilakukan oleh tenaga medis dan paramedis terlatih dan merupakan lanjutan dari survei primer (advance)

SURVEI PRIMER

Survei ini difokuskan pada bantuan nafas dan sirkulasi serta defibrilasi. Untuk dapat mengingat dengan mudah tindakan pada survei primer ini dirumuskan dengan huruf abjad : A, B, C, dan D.

A airway (jalan nafas)

B breathing (bantuan nafas)

C circulation (bantuan sirkulasi)

D defibrillation (terapi listrik)

    1. Memperbaiki posisi pasien/korban

Tindakan BHD yang efektif bila pasien/korban dalam posisi telentang, berada pada permukaaan yang rata/keras dan kering.Bila ditemukan pasien/korban miring atau telungkup pasien/korban harus ditelentangkan dulu dengan membalikkan sebagai satu kesatuan yang utuh untuk mencegah cedera/komplikasi.

    1. Mengatur posisi penolong

Posisi penolong berlutut sejajar dengan bahu pasien/korban agar pada saat memberikan batuan nafas dan bantuan sirkulasi penolong tidak perlu banyak pergerakan.

Cek kesadaran dan Aktifkan Sistem Emergensi

Langkah-langkah Dasar
Langkah-langkah dasar dalam PPGD dikenal dengan singkatan A-B-C-D ( Airway -
Breathing – Circulation – Disability ). Keempat poin tersebut adalah poin-poin yang harus
sangat diperhatikan dalam penanggulangan pasien dalam kondisi gawat darurat

Algortima Dasar PPGD
1.Ada pasien tidak sadar
2.Pastikan kondisi tempat pertolongan aman bagi pasien dan penolong
3.Beritahukan kepada lingkungan kalau anda akan berusaha menolong
4.Cek kesadaran pasien
a.Lakukan dengan metode AVPU
b.A –> Alert : Korban sadar jika tidak sadar lanjut ke poin V
c. V –> Verbal : Cobalah memanggil-manggil korban dengan berbicara keras di telinga
korban ( pada tahap ini jangan sertakan dengan menggoyang atau menyentuh
pasien ), jika tidak merespon lanjut ke P
d.P –> Pain : Cobalah beri rangsang nyeri pada pasien, yang paling mudah adalah
menekan bagian putih dari kuku tangan (di pangkal kuku), selain itu dapat juga
dengan menekan bagian tengah tulang dada (sternum) dan juga areal diatas mata
(supra orbital)
e.U –> Unresponsive : Setelah diberi rangsang nyeri tapi pasien masih tidak bereaksi
maka pasien berada dalam keadaan unresponsive
5.Call for Help, mintalah bantuan kepada masyarakat di sekitar untuk menelpon ambulans
(118) dengan memberitahukan :
a.Jumlah korban
b.Kesadaran korban (sadar atau tidak sadar)
c. Perkiraan usia dan jenis kelamin ( ex: lelaki muda atau ibu tua)
d.Tempat terjadi kegawatan ( alamat yang lengkap)
6.Bebaskan lah korban dari pakaian di daerah dada ( buka kancing baju bagian atas agar
dada terlihat
7.Posisikan diri di sebelah korban, usahakan posisi kaki yang mendekati kepala sejajar
dengan bahu pasien
8.Cek apakah ada tanda-tanda berikut :
a.Luka-luka dari bagian bawah bahu ke atas (supra clavicula)
b.Pasien mengalami tumbukan di berbagai tempat (misal : terjatuh dari sepeda motor)
c. Berdasarkan saksi pasien mengalami cedera di tulang belakang bagian leher
9.Tanda-tanda tersebut adalah tanda-tanda kemungkinan terjadinya cedera pada tulang
belakang bagian leher (cervical), cedera pada bagian ini sangat berbahaya karena disini
tedapat syaraf-syaraf yg mengatur fungsi vital manusia (bernapas, denyut jantung)
a.Jika tidak ada tanda-tanda tersebut maka lakukanlah Head Tilt and Chin Lift.

Chin lift dilakukan dengan cara menggunakan dua jari lalu mengangkat tulang dagu (bagian dagu yang keras) ke atas. Ini disertai dengan melakukan Head tilt yaitu menahan kepala dan mempertahankan posisi seperti figure

berikut. Ini dilakukan untuk membebaskan jalan napas korban.

b.Jika ada tanda-tanda tersebut, maka beralihlah ke bagian atas pasien, jepit kepala pasien dengan paha, usahakan agar kepalanya tidak bergerak-gerak lagi (imobilisasi) dan lakukanlah Jaw Thrust

Gerakan ini dilakukan untuk menghindari adanya cedera lebih lanjut pada tulang belakang bagian leher pasien.
10. Sambil melakukan a atau b di atas, lakukan lah pemeriksaan kondisi Airway (jalan napas) dan Breathing (Pernapasan) pasien.
11. Metode pengecekan menggunakan metode Look, Listen, and Feel

Look : Lihat apakah ada gerakan dada (gerakan bernapas), apakah gerakan tersebut simetris ?
Listen : Dengarkan apakah ada suara nafas normal, dan apakah ada suara nafas tambahan yang abnormal (bisa timbul karena ada hambatan sebagian)

Jenis-jenis suara nafas tambahan karena hambatan sebagian jalan nafas :
a.Snoring : suara seperti ngorok, kondisi ini menandakan adanya kebuntuan jalan napas bagian atas oleh benda padat, jika terdengar suara ini maka lakukanlah pengecekan langsung dengan cara cross-finger untuk membuka mulut (menggunakan 2 jari, yaitu ibu jari dan jari telunjuk tangan yang digunakan untuk chin lift tadi, ibu jari mendorong rahang atas ke atas, telunjuk menekan rahang bawah ke bawah). Lihatlah apakah ada benda yang menyangkut di tenggorokan korban (eg: gigi palsu dll). Pindahkan benda tersebut

b. Gargling : suara seperti berkumur, kondisi ini terjadi karena ada kebuntuan yang disebabkan oleh cairan (eg: darah), maka lakukanlah cross-finger(seperti di atas), lalu lakukanlah finger-sweep (sesuai namanya, menggunakan 2 jari yang sudah dibalut dengan kain untuk “menyapu” rongga mulut dari cairan-cairan).

c.Crowing : suara dengan nada tinggi, biasanya disebakan karena pembengkakan (edema) pada trakea, untuk pertolongan pertama tetap lakukan maneuver head tilt and chin lift atau jaw thrust saja
Jika suara napas tidak terdengar karena ada hambatan total pada jalan napas, maka dapat dilakukan :

a.Back Blow sebanyak 5 kali, yaitu dengan memukul menggunakan telapak tangan daerah diantara tulang scapula di punggung
b.Heimlich Maneuver, dengan cara memposisikan diri seperti gambar, lalu menarik tangan ke arah belakang atas.
c.Chest Thrust, dilakukan pada ibu hamil, bayi atau obesitas dengan cara memposisikan diri seperti gambar lalu mendorong tangan kearah dalam atas.

Feel : Rasakan dengan pipi pemeriksa apakah ada hawa napas dari korban ?
12. Jika ternyata pasien masih bernafas, maka hitunglah berapa frekuensi pernapasan pasien itu dalam 1 menit (Pernapasan normal adalah 12 -20 kali permenit)
13. Jika frekuensi nafas normal, pantau terus kondisi pasien dengan tetap melakukan Look Listen and Feel
14. Jika frekuensi nafas < 12-20 kali permenit, berikan nafas bantuan (detail tentang nafas bantuan dibawah)
15. Jika pasien mengalami henti nafas berikan nafas buatan (detail tentang nafas buatan dibawah

16. Setelah diberikan nafas buatan maka lakukanlah pengecekan nadi carotis yang terletak di leher (ceklah dengan 2 jari, letakkan jari di tonjolan di tengah tenggorokan, lalu gerakkan lah jari ke samping, sampai terhambat oleh otot leher (sternocleidomastoideus), rasakanlah denyut nadi carotis selama 10 detik.

17. Jika tidak ada denyut nadi maka lakukanlah Pijat Jantung(figure D dan E , figure F pada bayi), [detil tentang pijat jantung dijelaskan di bawah] diikuti dengan nafas buatan(figure A,B dan C)[detil tentang nafas buatan dijelaskan di bawah],ulang sampai 6 kali siklus pijat jantung-napas buatan, yang diakhiri dengan pijat jantung

18. Cek lagi nadi karotis (dengan metode seperti diatas) selama 10 detik, jika teraba lakukan Look Listen and Feel (kembali ke poin 11) lagi. jika tidak teraba ulangi poin nomer 17.
19. Pijat jantung dan nafas buatan dihentikan jika
a.Penolong kelelahan dan sudah tidak kuat lagi
b.Pasien sudah menunjukkan tanda-tanda kematian (kaku mayat)
c.Bantuan sudah datang
d.Teraba denyut nadi karotis
20. Setelah berhasil mengamankan kondisi diatas periksalah tanda-tanda shock pada pasien :
a.Denyut nadi >100 kali per menit

b.Telapak tangan basah dingin dan pucat
c.Capilarry Refill Time > 2 detik ( CRT dapat diperiksa dengan cara menekan ujung kuku pasien dg kuku pemeriksa selama 5 detik, lalu lepaskan, cek berapa lama waktu yg dibutuhkan agar warna ujung kuku merah lagi)
21. Jika pasien shock, lakukan Shock Position pada pasien, yaitu dengan mengangkat kaki pasien setinggi 45derajat dengan harapan sirkulasi darah akan lebih banyak ke jantung
22. Pertahankan posisi shock sampai bantuan datang atau tanda-tanda shock menghilang
23. Jika ada pendarahan pada pasien, coba lah hentikan perdarahan dengan cara menekan atau membebat luka (membebat jangan terlalu erat karena dapat mengakibatkan jaringan yg dibebat mati)
24. Setelah kondisi pasien stabil, tetap monitor selalu kondisi pasien dengan Look Listen and Feel, karena pasien sewaktu-waktu dapat memburuk secara tiba-tiba.
Nafas Bantuan
Nafas Bantuan adalah nafas yang diberikan kepada pasien untuk menormalkan frekuensi nafas pasien yang di bawah normal. Misal frekuensi napas : 6 kali per menit, maka harus diberi nafas bantuan di sela setiap nafas spontan dia sehingga total nafas permenitnya menjadi normal (12 kali).
Prosedurnya :
1. Posisikan diri di samping pasien
2. Jangan lakukan pernapasan mouth to mouth langsung, tapi gunakan lah kain sebagai pembatas antara mulut anda dan pasien untuk mencegah penularan penyakit2
3. Sambil tetap melakukan chin lift, gunakan tangan yg tadi digunakan untuk head tilt untuk menutup hidung pasien (agar udara yg diberikan tidak terbuang lewat hidung).
4. Mata memperhatikan dada pasien
5. Tutupilah seluruh mulut korban dengan mulut penolong
6.Hembuskanlah nafas satu kali ( tanda jika nafas yg diberikan masuk adalah dada pasien mengembang)
7.Lepaskan penutup hidung dan jauhkan mulut sesaat untuk membiarkan pasien menghembuskan nafas keluar (ekspirasi)
8.Lakukan lagi pemberian nafas sesuai dengan perhitungan agar nafas kembali normal
Nafas Buatan

Cara melakukan nafas buatan sama dengan nafas bantuan, bedanya nafas buatan diberikan pada pasien yang mengalami henti napas. Diberikan 2 kali efektif (dada mengembang )
Pijat Jantung
Pijat jantung adalah usaha untuk “memaksa” jantung memompakan darah ke seluruh tubuh, pijat jantung dilakukan pada korban dengan nadi karotis yang tidak teraba. Pijat jantung biasanya dipasangkan dengan nafas buatan (seperti dijelaskan pada algortima di atas)
Prosedur pijat jantung :
1. Posisikan diri di samping pasien
2. Posisikan tangan seperti gambar di center of the chest ( tepat ditengah-tengah dada)
3. Posisikan tangan tegak lurus korban seperti gambar

4.Tekanlah dada korban menggunakan tenaga yang diperoleh dari sendi panggul (hip joint)
5.Tekanlah dada kira-kira sedalam 4-5 cm (seperti gambar kiri bawah)
6. Setelah menekan, tarik sedikit tangan ke atas agar posisi dada kembali normal (seperti gambar kanan atas)
7. Satu set pijat jantung dilakukan sejumlah 30 kali tekanan, untuk memudahkan menghitung dapat dihitung dengan cara menghitung sebagai berikut :
Satu Dua Tiga EmpatSATU
Satu Dua Tiga Empat DUA
Satu Dua Tiga Empat TIGA
Satu Dua Tiga Empat EMPAT
Satu Dua Tiga Empat LIMA
Satu Dua Tiga Empat ENAM
8. Prinsip pijat jantung adalah :
a. Push deep
b. Push hard
c. Push fast
d. Maximum recoil (berikan waktu jantung relaksasi)
e. Minimum interruption (pada saat melakukan prosedur ini penolong tidak boleh diinterupsi)
Perlindungan Diri Penolong

Dalam melakukan pertolongan pada kondisi gawat darurat, penolong tetap harus senantiasa memastikan keselamatan dirinya sendiri, baik dari bahaya yang disebabkan karena lingkungan, maupun karena bahaya yang disebabkan karena pemberian pertolongan.
Poin-poin penting dalam perlindungan diri penolong :
1.Pastikan kondisi tempat memberi pertolongan tidak akan membahayakan penolong dan pasien
2.Minimasi kontak langsung dengan pasien, itulah mengapa dalam memberikan napas bantuan sedapat mungkin digunakan sapu tangan atau kain lainnya untuk melindungi penolong dari penyakit yang mungkin dapat ditularkan oleh korban
3.Selalu perhatikan kesehatan diri penolong, sebab pemberian pertolongan pertama adalah tindakan yang sangat memakan energi. Jika dilakukan dengan kondisi tidak fit, justru akan membahayakan penolong sendiri.

CARA MEMBUAT BLOG DI “wordpress”

1. Buka http://www.wordpress.com

2. Klik Sign Up

3. Isi form

a. Username: -> isi nama blog sesuai dengan keinginan (paling sedikit empat huruf/angka)

b. Password: Isi password/kata sandi (sedikitnya enam huruf/angka)

c. Confirm: Ulangi password yang sama dengan di atas.

d. Email Address: Isi email Anda (apabila belum punya email, buat dulu di gmail.com atau yahoomail.com)

e. Legal flotsam: beri tanda tik di kotak yang tersedia sebagai tanda “setuju” dengan perjanjian.

f. Beri tanda tik pada menu “Gimme a blog” (biasanya sudah otomatis ada tanda tik di sini).

g. Klik “Next”

h. Blog Title -> Isi judul yang sesuai.

i. Language -> Pilih Bahasa Indonesia.

j. Privacy -> Kasih tanda tik (biasanya sudah ada otomatis).

4. Klik Sign Up

5. Akan muncul pesan sebagai berikut:

Your account is now active!

You are now logged in as (username Anda).

An email with your username, password, Akismet API key and important links has been sent to your email address.

Write a post, change your template or visit the homepage.

5. Itu berarti Anda sudah berhasil membuat blog. Silahkan login ke blog Anda. Berikut alamat penting untuk Anda:

a. Untuk login, buka: http://namabloganda.wordpress.com/login.php

b. Isi username (=nama blog) dan password.

c. Klik “Write” atau “Tulis” untuk mulai membuat posting.

d. Klik “Publish” atau “Tampilkan”

6. Selesai (kalau mau udahan, jangan lupa klik “Log Out”).

Catatan:

* Di wordpress.com, satu account hanya untuk satu blog. Ini berbeda dengan blogger.com/blogspot di mana satu account bisa untuk membuat beberapa blog.

* Kelebihan wordpress.com dibanding blogger.com adalah (1) comment friendly: pengunjung mudah berkomentar karena kotak komentar langsung terbuka di bawah posting. Bagi Anda yang suka dikomentarin, wordpress cocok untuk Anda; (2) Posting terbaru akan muncul beberapa saat di Dashboard (Menu Utama) seluruh pemakai wordpress.com, apabila posting Anda cukup menarik Anda juga berkesempatan masuk BOTD (best of the day) yakni 10 posting terbaik hari itu dan akan muncul selama sehari di Menu Utama (Dashboard) seluruh pemakai wordpress.com. Untuk BOTD ini diklasifikasi berdasar bahasa. Pastikan Anda memilih Bahasa Indonesia pada saat mendaftar (lihat poin 3.i.)

* Kekurangan wordpress.com dibanding blogger.com/blogspot adalah javascript tidak berfungsi (disabled) artinya Anda tidak bisa memasang iklan apapun–AdSense, Adbrite, dll–di wordpress.com. Tidak masalah buat blogger yang memang betul-betul ingin ngeblog saja, tanpa ada niat untuk iseng-iseng pasang iklan. Bagi yang ingin pasang iklan, dapat juga di blog gratis yang pakai software wordpress juga seperti blogsome.com atau blogs.ie. Sayangnya, kedua penyedia blog gratis ini masih memakai software wordpress lama (tak ada fasilitas widget, dan lain-lain).

CARA PASANG FOTO

Cara pasang foto di wordpress versi 2.5+ agak berbeda dengan sebelumnya. WordPress versi terbaru ini juga dipakai di wordpress.com sehingga banyak blogger baru yang kebingungan karena tutorial cara pasang foto yang tulis sebelumnya di sini jadi tidak cocok.

Ketidakcocokan ini juga terjadi pada sejumlah tutorial di blog ini karena wordpress 2.5+ mengalami perombakan total dari versi-versi sebelumnya sehingga tutorial soal menu dan widget yang pernah ditulis di sini agak kurang sinkron. Berikut tutorial pasang foto di posting wordpress:

1. Klik “Tulis” atau “Write”

2. Di kotak posting ada menu “Tambahkan Media” klik kotak paling kiri

3. Klik “Pilih berkas untuk diunggah” dan pilih gambar dari komputer Anda

4. Tunggu beberapa saat sampai keluar gambarnya, kemudian klik “sisipkan ke dalam tulisan” (letaknya no. 2 paling bawah).

5. Selesai.

Penting:

I. Gambar akan muncul di antara judul dan artikel. Supaya gambar menyatu dengan artikel seperti yang ada di posting ini lakukan langkah berikut:

1. Klik menu “HTML” yang terdapat di bawah judul sebelah kanan.

2. Di akhir link image (sebelum tanda …/> )tambahkan kode berikut

border=”0″ style=”float: left; margin: 0px 10px 10px 0px”

3. Klik menu “Visual” setelah tampilan ok, klik “Tampilkan” atau “Publish”

4. Selesai.

II. Untuk upload video klik “Tambahkan Video” , untuk upload Mp3 atau file musik lain klik “Tambahkan Audio”. Letaknya ada di sebelah kanan menu “Tambahkan Media”. Arahkan mouse Anda ke kotak sebelah kanan menu “Tambahkan media”, maka akan muncul thumbnail (keterangan) menu terkait.

LAPORAN DAN SKRIPSI

  1. Laporan

Ada tiga jenis laporan yang dianggap penting yakni : laporan buku, laporan penelitian, dan laporan teknik.

        1. Laporan Buku

Laporan buku adalah karya ilmiah yang mendemonstrasikan pemahaman penulis terhadap isi buku disertai pandangan penulis terhadap isi sumber tersebut . fungsi laporan untuk mendemonstrasikan kemampuan penulis dalam menganalisis, menarik inferensi, dan menilai sumber yang dibacanya.

Laporan buku memiliki kriteria sebagai berikut :

  1. buku yang dibaca harus actual.

  2. sumber lama yang mendasari kajian-kajian terbaru.

  3. Sumber harus berkualitas.

        1. Sistematika penulisan laporan

          1. Pendahuluan

          2. Isi

          3. Komentar

          4. Simpulan

        1. Laporan Penelitian

laporan penelitia memuat penjelasan tentang proses temuan yang menggunakan metodologi tertentu. Dalam proses ini, biasanya dilakukan percobaan dan hasilnya disebut temuan ilmiah.

Laporan penelitian ditulis dalam suatu format. Dan disajikan dengan format bebas dan format tetap.format bebas tidak dibatasi jumlah bab dan masing-masing babnya. Format tetap harus mengikuti peraturan tertentu mengenai jumlah bab dan isi tiap-tiap bab.

Ada dua jenis laporan penelitian, yaitu:

  1. Laporan Penelitian Kuantitatif

Laporan ini disajikan secara lugas, objektif, dan apa adanya. Isi pokoknya adalah hal yang diteliti, cara penelitian dilakukan, hasil-hasil, dan simpulan penelitian .laporan penelitian kuantitatif terdiri atas bagian utama yaitu bagian awal, bagian inti, dan bagian akhir.

Bagian awal meliputi : halaman sampul, halaman judul, abstrak, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, daftar lampiran, dan daftra lainnya. Bagian inti meliputi :

BAB I PENDAHULUAN

    1. Latar Belakang Masalah

    2. Rumusan Masalah

    3. Tujuan Penelitian

    4. Hipotesis Penelitian (jika ada)

    5. Kegunaan Penelitian

    6. Asumsi

    7. Definisi operasional

BAB II LANDASAN TEORI

Teori-teori yang terkait dengan masalah penelitian dapat dipecah menjadi beberapa subbab.

BAB III METODE PENELITIAN

  1. Rancangan Penelitian

  2. Populasi dan Sampel

  3. Instrumen Penelitian

  4. Pengumpulan Data

  5. Analisis Data

BAB IV HASIL PENELITIAN

  1. Deskripsi Data

  2. Pengujian Hipotesis

BAB V PEMBAHASAN

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP PENULIS

  1. Laporan Penelitian Kualitatif

Penelitian kualitatif dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala atau fenomena secara menyeruluh dan kontekstual.cara menyampaikan laporan ini harus digambarkan secara utuh dan kontekstual tentang topic yang diteliti.laporan ini dibagi tiga bagian utama, yaitu : bagian awal yang berisi abstrak, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, dan daftar lampiran ; bagian initi berisi paparan keseluruhan aktifitas penelitian ; dan bagian akhir berisi daftar rujukan dan lampiran-lampiran.

  1. FORMAT TETAP

BAB I PENDAHULUAN

  1. Konteks Penelitian atau Latar Belakang

  2. Fokus penelitian yang berisi rumusan masalah dan tujuan penelitian

  3. Landasan Teori

  4. Kegunaan Penelitian

BAB II PENELITIAN

  1. Pensekatan dan jenis Penelitian

  2. Lokasi penelitian

  3. Sumber Data

  4. Prosedur Pengumpulan Data

  5. Analisis Data

  6. Pengecekan Pengumpilan Data

  7. Tahap-Tahap Penelitian

BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

BAB IV PEMBAHASAN

BAB V PENUTUP

  1. FORMAT SEMI BEBAS

BAB I PENDAHULUAN

  1. Konteks Penelitian atau Latar Belakang

  2. Fokus penelitian yang berisi rumusan masalah dan tujuan penelitian

  3. Manfaat Penelitian

BAB II LANDASAN TEORI

  1. Pendekatan dan jenis Penelitian

  2. Lokasi penelitian

  3. Sumber Data

  4. Prosedur Pengumpulan Data

  5. Analisis Data

  6. Pengecekan Keabsahan Temuan

  7. Tahap-Tahap Penelitian

BAB IV PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

BAB V PEMBAHASAN

BAB VI PENUTUP

  1. FORMAT BEBAS

BAB I PENDAHULUAN

  1. Konteks Penelitian atau Latar Belakang

  2. Fokus penelitian yang berisi rumusan masalah dan tujuan penelitian

  3. Metodologi Penelitian

  4. Manfaat Penelitian

BAB IIPAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

BAB III PENUTUP

  1. SKRIPSI

Skripsi adalah laporan hasil kegiatan penelitian yang disusun dalam sebuah karya ilmiah untuk dipertanggungjawabkan diakhir program pendidikan mereka. Skripsi dibuat untuk menyelesaikan program pendidikan strata satu (SI). Tugas penyusunan skripsi merupakan salah satu syarat bagi mereka yang akan menyelesaikan gelar akademik.

Menulis skripsi merupakan kegiatan ilmiah yang diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan ilmiah dengan menggunakan berbagai unsure informasi dan unsure metodologi dalam bidang ilmu yang melingkupinya.

Bagian-Bagian Skripsi

Skripsi dibagi menjadi tiga bagian , yaitu : bagian muka (suplemen awal), bagian utama (naskah utama (naskah skripsi), dan bagian akhir (suplemen akhir).

Bagian awal mencakup: Halaman Sampul, Lembar Logo, Halaman Judul, Lembar Persetujuan, Abstrak, Kata Pengantar, Daftar isi, Daftar Tabel, Daftar Gambar, Daftar Lampiran, dan daftar-daftar lain yang diperlukan.

Bagian inti mencakup :

BAB I PENDAHULUAN

    1. Latar Belakang Masalah

    2. Rumusan Masalah

    3. Tujuan Penelitian

    4. Kegunaan Penelitian

    5. Kerangka Berpikir

    6. Langkah-Langkah Penelitian

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III DATA DAN PEMBAHASAN

Bagian akhir mencakup : Dftar Pustaka, Lampiran-Lampiran, dan Riwayat Hidup.

    1. Latar Belakang Masalah

Dalam latar belakang dipaparkan secara ringkas tentang teori, hasil penelitian, simpulan seminar ilmiah, maupun pengamatan pribadi yang terkait dengan masalah yang diteliti.

    1. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang baik akan menampakkan variable-variabel yany akan diteliti, jenis atau sifat hubungan varianel-variabel yang akan diteliti. Masalah penelitian dirumuskan dengan menggunakan kalimat Tanya.

    1. Tujuan Penelitian

    2. Kegunaan Penelitian

    3. Kerangka Berpikir

    4. Langkah-Langkah Penelitian

About these ads

Aksi

Information

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: